Pria di Alun Alun Kota
Cerpen Karangan : Muhammad Nur Wachid
Kategori : Cerpen Penantian, Cerpen
Penyesalan
Pria
itu masih mematung di dipan berwarna
coklat berkarat, di alun-alun kota, senja sudah meranum, pria itu masih tak bergeming,
dia telah duduk sejak siang tadi, kira-kira bakda luhur dia telah membatu di
sana, entah menunggu siapa, yang jelas wanita, ya, wanita, pasti pria itu
menunggu wanita, dengan setelan necis dan rambut tersisir rapat itu, dan
kemungkinan wangi, tidak salah lagi.
Sesekali
dia amati jam tangannya, memastikan waktu masih hidup, mungkin juga orang yang
ditunggu. Dia raih pager di sakunya, siapa tahu ada pesan, mungkin dari yang
ditunggu, ah, sungguh wanita itu sungguh tega membuat pria bersetelan necis itu
menunggu sekian lama, memang wanita, dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk bisa
memahami mereka, tapi ini sudah terlalu lama, pria itu sesekali masih mengintip
jam ditangannya, dia tak peduli kalau angkasa sudah menggulita, dia hanya
mementingkan jam ditangannya, jika jarum jam itu belum menghujamnya, dia takkan
pergi, dan jarum itu adalah wanita yang ditunggunya. Magrib pun menyeruak. Ah,
akhirnya pria itu bergerak, aku kira sudah wafat di penantiannya, akhirnya dia
menyerah, mungkin yang ditunggu tak bisa hadir karna beribu alasan, atau memang
tak pernah berniat datang.
Esoknya.
Tak bisa dipercaya. Waktu yang sama, bakda luhur. Tempat yang sama. Dipan coklat.
Pria itu sudah menepi di sana dengan pakaian yang sama. Sisiran yang sama. Duh,
apakah dia belum menyerah, atau jangan-jangan itu pekerjaannya. Mungkin dia bandar.
Bertransaksi barang terlarang dan menunggu kliennya dalam diam. Mungkin juga,
alun-laun kota adalah tempat yang aman dan jauh dari kesan mencurigakan jika
melakukan pertemuan. Walaupun itu salah. Namun dia bersetelan necis, dan oh,
hujan..
Awan
pekat tiba-tiba mengepung seisi alun-alun kota dan hujan pun menderu tanpa
ampun, pria itu segera beranjak mencari tempat teduh terbaik sambil tetap bisa
mengawasi dipan coklat itu, siapa tahu yang ditunggu datang. Dia menghampiriku.
Berteduh di sisiku, yang memang berjualan ala kadarnya di bawah rimbun jati tua
alun-alun kota.
“Pak, nunut (numpang, red), ya?”
“Oh, monggo den, hujannya deras,
mungkin kopi.”
“Eh, iya, boleh.”
Aku buatkan yang paling pekat. Siapa tahu
dia bisa lupakan sekejap penantiannya. Asap mengepul. Dan pandangan pria itu
masih terpukul, tampaknya.
“Kayaknya saya perhatikan, aden dari
kemarin duduk disana. Nunggu. Yang ditunggu kok gak dating?.”
Dia menghela seperti berat, “embt,
gimana ngomongnya ya, dia gak pernah datang, dan dia gak bakal datang, mas.”
“Wanita.”
Dia mengangguk halus, sungguh halus. Rambut
basahnya mengusut.
“Istri? Pacar ?.” dia hanya
tersenyum, dengan halus tentunya.
“loh, lha tau gitu kenapa masih
nunggu.”
“Aku hanya ingin merasakan apa yang
dia rasakan kala itu, di sini. Alun-alun kota. Dipan berkarat itu. Aku menyesal
tak datang dan memeluknya. Sungguh menyesal.”
Hujan reda. Tapi, tidak di sukmanya. Dia
keluarkan secarik kertas. Dia sodorkan bersamaan lembaran ribuan untuk kopi. Dia
beranjak sambil berterima kasih. Aku buka kertas itu. Sebuah undangan.
“Mohon kehadiran, memperingati tujuh
hari kepergian…”
Cerita ini dikarang oleh : Muhammad
Nur Wachid
Dan dipublikasikan oleh : http://cerpenmu.com
Unsur Intrinsik
1.
Tema : Penyesalan
2.
Tokoh : a. Pria misterius dengan setelan
necis
b. Sudut pandang orang pertama (Aku) sebagai
penjual ala kadarnya
3.
Watak :
a.
Pria Misterius : Teguh dan
sabar
b.
Aku : Ingin tahu, prihatin,
dan berprasangka
4.
Latar :
a.
Waktu : Siang hari dan sore
hari
b.
Suasana : Misterius dan
sedih
c.
Tempat : Alun-alun kota
5.
Sudut Pandang : Orang Pertama pelaku utama
6.
Gaya Bahasa : Bahasa baku dan Bahasa
sehari-hari
7.
Alur : Maju Mundur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar