Minggu, 25 Maret 2018


Pria di Alun Alun Kota
Cerpen Karangan : Muhammad Nur Wachid
Kategori : Cerpen Penantian, Cerpen Penyesalan

            Pria itu  masih mematung di dipan berwarna coklat berkarat, di alun-alun kota, senja sudah meranum, pria itu masih tak bergeming, dia telah duduk sejak siang tadi, kira-kira bakda luhur dia telah membatu di sana, entah menunggu siapa, yang jelas wanita, ya, wanita, pasti pria itu menunggu wanita, dengan setelan necis dan rambut tersisir rapat itu, dan kemungkinan wangi, tidak salah lagi.
            Sesekali dia amati jam tangannya, memastikan waktu masih hidup, mungkin juga orang yang ditunggu. Dia raih pager di sakunya, siapa tahu ada pesan, mungkin dari yang ditunggu, ah, sungguh wanita itu sungguh tega membuat pria bersetelan necis itu menunggu sekian lama, memang wanita, dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk bisa memahami mereka, tapi ini sudah terlalu lama, pria itu sesekali masih mengintip jam ditangannya, dia tak peduli kalau angkasa sudah menggulita, dia hanya mementingkan jam ditangannya, jika jarum jam itu belum menghujamnya, dia takkan pergi, dan jarum itu adalah wanita yang ditunggunya. Magrib pun menyeruak. Ah, akhirnya pria itu bergerak, aku kira sudah wafat di penantiannya, akhirnya dia menyerah, mungkin yang ditunggu tak bisa hadir karna beribu alasan, atau memang tak pernah berniat datang.
            Esoknya. Tak bisa dipercaya. Waktu yang sama, bakda luhur. Tempat yang sama. Dipan coklat. Pria itu sudah menepi di sana dengan pakaian yang sama. Sisiran yang sama. Duh, apakah dia belum menyerah, atau jangan-jangan itu pekerjaannya. Mungkin dia bandar. Bertransaksi barang terlarang dan menunggu kliennya dalam diam. Mungkin juga, alun-laun kota adalah tempat yang aman dan jauh dari kesan mencurigakan jika melakukan pertemuan. Walaupun itu salah. Namun dia bersetelan necis, dan oh, hujan..
            Awan pekat tiba-tiba mengepung seisi alun-alun kota dan hujan pun menderu tanpa ampun, pria itu segera beranjak mencari tempat teduh terbaik sambil tetap bisa mengawasi dipan coklat itu, siapa tahu yang ditunggu datang. Dia menghampiriku. Berteduh di sisiku, yang memang berjualan ala kadarnya di bawah rimbun jati tua alun-alun kota.
“Pak, nunut (numpang, red), ya?”
“Oh, monggo den, hujannya deras, mungkin kopi.”
“Eh, iya, boleh.”
Aku buatkan yang paling pekat. Siapa tahu dia bisa lupakan sekejap penantiannya. Asap mengepul. Dan pandangan pria itu masih terpukul, tampaknya.
“Kayaknya saya perhatikan, aden dari kemarin duduk disana. Nunggu. Yang ditunggu kok gak dating?.”
Dia menghela seperti berat, “embt, gimana ngomongnya ya, dia gak pernah datang, dan dia gak bakal datang, mas.”
“Wanita.”
Dia mengangguk halus, sungguh halus. Rambut basahnya mengusut.
“Istri? Pacar ?.” dia hanya tersenyum, dengan halus tentunya.
“loh, lha tau gitu kenapa masih nunggu.”
“Aku hanya ingin merasakan apa yang dia rasakan kala itu, di sini. Alun-alun kota. Dipan berkarat itu. Aku menyesal tak datang dan memeluknya. Sungguh menyesal.”
Hujan reda. Tapi, tidak di sukmanya. Dia keluarkan secarik kertas. Dia sodorkan bersamaan lembaran ribuan untuk kopi. Dia beranjak sambil berterima kasih. Aku buka kertas itu. Sebuah undangan.

“Mohon kehadiran, memperingati tujuh hari kepergian…”
Cerita ini dikarang oleh : Muhammad Nur Wachid
Dan dipublikasikan oleh : http://cerpenmu.com


Unsur Intrinsik
1.       Tema             : Penyesalan
2.       Tokoh           : a. Pria misterius dengan setelan necis
  b. Sudut pandang orang pertama (Aku) sebagai penjual ala kadarnya
3.       Watak           :
a.       Pria Misterius : Teguh dan sabar
b.      Aku : Ingin tahu, prihatin, dan berprasangka
4.       Latar              :
a.       Waktu : Siang hari dan sore hari
b.      Suasana : Misterius dan sedih
c.       Tempat : Alun-alun kota
5.       Sudut Pandang         : Orang Pertama pelaku utama
6.       Gaya Bahasa              : Bahasa baku dan Bahasa sehari-hari
7.       Alur                : Maju Mundur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Etika Profesi Javier Dean. P 26117524 4KB05   Etika adalah ilmu tentang yang baik dan buruk, serta tentang hak dan kewajiban moral...